- 1. Islam memandang cinta seperti iman. Karena mencintai adalah bagian dari sifat orang yg beriman2. Karena Cinta = Iman maka harus diungkapkan dengan lisan, diyakini di hati dan dibuktikan dengan tindakan3. Mengucapkan Cinta pada orang yg kita cintai itu sunnah, Karena Rosulullah menganjurkannya. Namun ada aturannya..
- 4. Pengucapan cinta ditujukan kepada yg sudah halal | kepada teman yg dikagumi kesolehannya | kepada orang tua. Tentunya cinta karena Allah6. Tak perlu pacaran | jodoh sudah diatur | yg terpenting kita menata diri menjadi orang yg baik InsyaAllah jodoh kita pun baik5. Islam sangat menjaga kesucian cinta shingga tidak ada pacaran sebelum menikah. Maka jangan kotori dirimu dengan cinta yg tak halal bagimu
-
7. Cinta dalam islam berhulu iman, bermuara taqwa, yg mengalir ketulusan dan kejujuran. Yg berpegang pada kesetiaan dari sejuta pengorbanan
- 8. Cinta bukan karena dorongan nafsu akan tetapi datangnya dari iman di dalam diri yg mengedepankan akhlak mulia dan ketaqwaan pada Allah
- 9. Cinta atas dasar nafsu takkan mendatangkan kebahagiaan dan ketenteraman di jiwa, kecuali kesengsaraan dan kehinaan yg berkepanjangan11. Hakikat dari cinta itu pemberian seutuhnya dirimu kepada yg kau cintai sehingga tak ada satu pun yg tersisa dari dirimu10. Mencintai seseorang karena ketaqwaan kita pada Allah adalah sebenar-benarnya cinta. Disinilah letaknya kebahagiaan dalam cinta12. Karena hakikat cinta adalah pemberian seutuhnya dirimu pada pasanganmu maka tidak ada yg perlu ditutup-tutupi lagi darimu
-
13. Jika telah menikah, milikmu adalah milik pasangan halalmu | tidak ada yg harus disimpan-simpan | harus saling terbuka
- 14. Jika seorang lelaki mencintai seorang wanita maka melamarnya untuk dijadikan isteri adalah bentuk dari pembuktian cintanya15. Pacaran itu ujung-ujungnya hanya menyakiti wanita dan mendekatkan diri pada kemaksiatan yg lebih besar | akhirnya wanita yg dirugikan
-
16. Jika menyukai, segera menikahi. Kalau belum mampu, cukuplah mencintai dalam diam. Demi menjaga kesucian dirimu dan kesucian dirinya17. Ali dan Fatimah adalah contoh dari orang yg mencintai dalam diam. mereka saling mencinta namun mereka menjaga hingga indah pada waktunya
- 18. Jika kita tidak bisa memiliki orang yg kita cintai dalam diam, yakinlah bahwa Allah telah mempersiapkan yg terbaik untuk kita19. Allah akan memberikan pasangan jiwa yg sesuai dgn perangai kita | jika ingin dapat yg baik, jadilah orang baik | (baca QS An-Nur: 26)20. Adapun bila pasangan kita buruk maka itu adalah ujian bagi kita untuk menjadi hamba-Nya yg sabar. Dan surgalah tempat mereka yg bersabar21. Ingatlah bahwa cinta sejati hanyalah milik Allah.. Cinta manusia hanya akan membuatmu terluka. Maka cintailah manusia karena Allah
- 22. Jika kita mencintai seseorang karena Allah maka kita akan bisa memaafkan kesalahan yg dilakukan olehnya | Manusia tak luput dari salah
- 23. Cintailah sekedar saja kerna bisa jadi engkau akan benci. Bencilah sekedar saja kerna bisa jadi kau akan cinta (Maksud hadits)24. Mencinta sekedar saja tidak akan membuatmu merasa kehilangan yg teramat sangat saat orang yg kau cintai meninggalkanmu
-
25. Mencintai dengan berlebihan akan membuatmu begitu sakit saat yg kau cintai pergi meninggalkanmu | Di dunia tak ada yg abadi
Sabtu, 11 Januari 2014
Pandangan Cinta Dalam Islam - Mencintai Karena Allah
Mencintai Allah
DIRIWAYATKAN dari Nabi SAW :
“Bahwasannya
seorang laki-laki datang menghadapnya, lalu berkat, ‘Aku mencintaimu
karena Allah ‘Azza wa Jalla’. Beliau pun bersabda padanya, ‘Jadikan bala
cobaan sebagai jubah, jadikan kefakiran sebagai jubah.”
Karena
engkau ingin bersifat sepertiku, maka sifatilah dirimu seperti
sifatku. Termasuk syarat mahabbah adalah muwafaqah (menurut).
Dikisahkan bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq ra (rela) memberikan seluruh
harta kekayaannya kepada Nabi Saw, karena kesungguhan cintanya kepada
beliau. Ia berbuat seperti perbuatan dan ikut merasakan kefakiran
bersamanya, hingga ia ikut memanggul beban. Ia menurutinya lahir dan
batin dalam kesunyian dan juga keramaian tetapi engkau hai pembohong
Engkau mengaku cintai pada kaum saleh, tetapi engkau sembunyikan dinar
dan dirhammu dari mereka, sambil mengharap kedekatan dan kebersamaan
dengan mereka. Pakailah akal ini adalah mahabbah yang bohong belaka.
Seorang pencinta tidak akan menyembunyikan apa pun dari kekasihnya,
bahakan ia akan memberikan segala sesuatu padanya.
Kefakiran sudah melekat pada diri Nabi Saw dan tak pernah meninggalkannya. Beliau bersabda :
“Kafakiran sudah melekat pada diri Nabi Saw kepada Zat yang mencintaiku (Allah) daripada aliran air kemuaranya.”
‘A’isyah,
rda menuturkan lebih lanjut, “Dunia senantiasa menjadi kotoran yang
menyesakkan kami selama Rasulullah saw masih berada di tengah-tengah
kami. Selepas beliau meninggal, dunia mengalir pada kami dengan
derasnya.”
Jika
kefakiran adalah syarat mencintai Rasul, maka syarat mencintai Allah
adalah bala cobaan. Seorang Sufi menuturkan “Setiap bala cobaan disertai
dengan kesetiaan.” Agar tidak dicap hanya mengaku-aku cintai Allah
dengan kebohongan, kemunafikan, dan riya maka cabut klaim dan
kebohonganmu. Jangan pernah engkau lintaskan ini dalam kepalamu. Jika
engkau datang, maka sedekahlah, jika tidak maka jangan ikuti kami.
Jangan bersikap perlente di depan tukang tukang uang (tanpa uang) sebab
ia tidak akan menerimamu dan malah akan mengeksposmu. Jangan dekati
ular dan macan, sebab mereka bisa membinasakanmu. Jika engkau seorang
pawang, bolehlah kau dekati ular itu, dan jika engkau sudah memiliki
kekuatan, maka dekatilah macan itu. Jalan (menuju) al-Haqq Azza wa Jalla
membutuhkan kejujuran (kesungguhan, mentari makrifat dan muncul di
hati kaum shiddiqin, dan tidak pernah tenggelam, siang maupun malam.
Wahai pemuda, berpalinglah engkau dari orang-orang munafik yang mendapat murka Allah ‘Azza wa Jalla. Pakailah akal dan jangan engkau dekat-dekat dengan kebanyakan manusia (abl az-zaman),
karena mereka adalah serigala-serigala berbulu domba. Ambillah cermin
pikir dan mengacalah. Mohonlah juga pada Allah agar memperlihatkan
padamu akan dirimu (sendiri) dan mereka. Aku telah berpengalaman dengan
manusia dan Sang Maha Pencipta. Kutemukan keburukan pada diri manusia,
dan kebaikan pada Sang Pencipta. Ya Allah, selamatkanlah kami dari
keburukan perilaku mereka dan anugerahkan pada kami kebaikan-Mu di dunia
dan Akhirat.
Aku
tidak mengingkan kalian demi kepentinganku, melainkan demi kepentingan
kalian sendiri. Aku hanya membuat simpul pada tali kalian, dan aku
tidak mengambil apa-apa dari kalian kecuali demi kemaslahatan kalian.
Aku sudah memiliki sesuatu yang telah diperuntukkan khusus bagiku dan
tidak kubutuhkan apa yang aku ambil dari kalian. Aku hanya tinggal
bekerja atau bertaawakal pada Allah ‘Azza wa Jalla. Aku tak
pernah mengharapkan pemberian kalian sebagaimana orang munafik yang
riya ‘ berpasrah diri pada kalian dan melupakan Tuhannya Aku adalah
parameter timbangan penghuni bumi (manusia), maka bersikaplah logis dan
jangan bermuka manis dihadapanku, sebab aku mengetahui kualitas baik
dan rendah kalian berkat pertolongan Allah dan akreditasi-Nya padaku.
Jika
engkau mengingkan kebahagian, maka jadilah engkau landasan tongkatku,
hingga bisa kuketuk-ketuk nadi hawa nafsumu, tabiat. Setan
musuh-musuhmu, serta kolega-kolega burukmu. Mohonlah pertolongan kepada
Tuhanmu dalam menghadapi musuh-musuh ini. Si pemenang adalah orang yang
bersabar menghadapinya dan si pecundang adalah orang menyerah pada
mereka. Petaka memang banyak, tetapi muara (rumah) nya hanya satu.
Penyakit juga banyak, namun tabibnya hanya satu. Hai orang-orang yang
sakit jiwa, pasrahkanlah dirimu pada seorang tabib. Jangan menuduh
mereka atas apa saja yang ia lakukan padamu, karena dia lebih sayang
dengan kalian daripada kalian sendiri. Membisulah di hadapannya dan
jangan sekali-kali membantahnya, niscaya kalian akan melihat segenap
kebaikan di dunai dan Akhirat.
Kaum
(Sufi) senantiasa dalam kondisi diam secara total, mati total dan
keterkejutan total. Jika hal ini telah sempurna mereka jalankan, dan
mereka pun masih terus menjalaninya, maka Allah akan membuat mereka
bicara kembali, sebagaimana Dia membuat bicara benda-benda mati pada
Hari Kiamat. Mereka tidak berbicara kecuali jika dititahkan untuk
bicara. Mereka juga tidak mengambil jika tidak diberi. Tidak pula mereka
bergembira jika tidak digembirakan. Hati mereka memang sudah manyamai
hati para malaikat Allah berfirman :
“...........
Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. 66 :
6).
Mereka telah menyamai derajat malaikat, bahkan setingkat lebih tinggi berkat makrifat pada Allah ‘Azza wa Jalla
dan pengetahuan terhadap-Nya serta terhadap malakikat-nya. Para
pembantu dan pengikut mereka banyak menyerap manfaat dari mereka, sebab
terdapat hikmah yang memancar deras di hati mereka. Hati mereka terjaga
dari segala petaka, karena petaka hanya sampai pada anggota badan,
struktur tubuh, dan nafsu mereka, serta tidak pernah sekalipun mencapai
hati mereka.
Jika
engkau ingin mencapai posisi mereka, maka engkau harus merealisasikan
keislaman, meninggalkan dosa-dosa, baik yang kasat mata maupun yang
tersembunyi, berlaku ‘wara’ secara universal, zuhud menjauhi
kemubahan duniawi maupun kehalalannya, merasa cukup dengan kemurahan
Allah, zuhud juga dalam kemurahan anugerah-Nya dan merasa cukup (kaya)
dengan kedekatan-Nya (hingga tak butuh apa-apa lagi). Jikalau rasa
cukupmu dengan kedekatan-Nya sudah benar-benar sahih, maka Dia akan
mengucurkan anugerah kemurahan-Nya padamu. Dia akan membuka untukmu
pintu-pintu bagian-Nya (qadha dan qadar), juga pintu kelembutan, rahmat
dan anugerah-Nya. Dia genggam dunia untukmu, lalu membentangkannya
seluas-luasnya.
Semua
anugerah ini hanya diberikan-Nya pada manusia-manusia pilihan yaitu
para wali dan shiddiqin karena Dia Maha mengetahui akan ketakwaan
mereka. Mereka tidak pernah menyibukkan diri dengan sesuatu sampai
terlena melupakan-Nya, namun pada banyak kasus, dunia tergenggam rapat
dari mereka (tidak Allah kucurkan pada mereka), karena Dia lebih suka
kesunyian total mereka hanya bersama-Nya kehadiran mereka hanya pada-Nya
dan pencarian mereka untuk-Nya. Jikalau Dia menganugerahi keduniaan
pada mereka, bisa jadi mereka malah sibuk mengurusinya, duduk
bersamanya, dan lupa melayani-Nya. Inilah yang biasa terjadi, sementara
hal di atas adalah sesuatu yang jarang terjadi. Adapun yang jarang ini
tidak terkait dengan hukum. Nabi Saw termasuk orang yang ditawari
dunia, namun tidak sibuk mengurusinya dan lupa melayani-Nya. Beliau
tidak menoleh pada bagian-bagian (rezeki) dengan segala kesempurnaan
zuhud dan penentangan. Beliau pernah ditawari kunci-kunci kekayaan
bumi, namun beliau justru mengembalikannya sembari berkata :
“Tuhan
hidupkanlah aku sebagai orang miskin dan matikan aku sebagai orang
miskin, serta kumpulkan aku kelak bersama orang-orang miskin”
Zuhud
adalah anugerah kesalehan. Jika tidak, maka tidak ada seorang yang
mampu berzuhud menjauhi bagian (dunia)nya. Seorang Mukmin bebas lepas
dari beban ambisi (mengumpulkan duniawi), tidak pula rakus dan
terburu-buru. Dia berzuhud atas segala sesuatu dengan segenap hatinya
dan berpaling darinya dengan segenap nuraninya. Dia hanya sibuk dengan
apa yang diperintah kepadanya, dan dia tahu pasti bahwa bagiannya tidak
akan lepas darinya, hingga dia pun tidak perlu mencarinya. Dia biarkan
bagian-bagian (duniawi) berlari mengejar di belakangnya merendah dan
memohon-mohon padanya untuk menerimanya.
Wahai pemuda ! Engkau membutuhkan keimanan yang mengarahkanmu di jalan al Haqq ‘Azza wa Jalla, juga keyakinan yang mengokohkan jejak langkahmu di sana. Pada awal penempuhanmu di jalan ini, engkau membutuhkan himyan
(ikat celana berisi uang sebagai bekal) dan pada akhirnya engkau
membutuhkan iman. Bedanya dengan jalan ke Mekkah yang dikatakan oleh
sebagaian kalangan membutuhkan iman dulu, baru himyan dan iman, diawal dan akhir perjalanan.
Sufyan ash Shawti semoga Allah mengasihinya pada
awal menuntut ilmu, diperutnya terikat sabut himyan berisi uang 500
dinar untuk keperluan hidup dan belajar. Dia ketuk-ketuk sabuk itu
dengan tangannya seraya berkata “Jika tidak ada engkau pastilah mereka
sudah membuang kita “Setelah diperolehnya ilmu dan makrifat pengetahuan al-Haqq Azza wa Jalla,
maka dia sumbangkan sisa uang yang ada padanya untuk kaum fakir dalam
waktu satu hari seraya berkata “Jikalau langit adalah besi yang tak
mecurahkan hujan, bumi berupa batu cadas yang tak menumbuhkan (tanaman)
dan aku pun (harus) berkonsentrasi mencari rezeki, maka pastilah aku
menjadi fakir”
Bekerja dan berinteraksilah dengan sarana sampai imanmu benar-benar kuat, baru setelah itu berpindahlah dari sarana (sabab) pada Pemberi sarana (Musabbib). Para
nabi juga bekerja, bermodal, dan berhubungan dengan sarana duniawi
pada awal keadaan mereka, baru pada akhirnya mereka pasrah diri
(tawakal). Mereka mensinergikan kerja dan tawakal sebagai awalan dan
akhiran, syariat dan hakikat. Hai orang-orang yang tertolak (al mabrum).
Jangan kosongkan tanganmu dari bekerja demi kepasrahan diri (menunggu)
apa yang ada ditangan manusia dan membebani mereka. Dengan demikian
engkau telah mengikari nikmat takdir Allah ‘Azza wa Jalla pun murka besar padamu dan menjauhimu. Tidak bekerja dan mengemis pada manusia adalah siksaan (uqubah) al Haqq Azza wa Jalla
menyempitkan ruang geraknya, mengusirnya dari kerajaannya dan
menyempitkan jalan rezeki baginya, hingga dia terpaksa harus
meminta-minta. Semua itu dikarenakan isterinya menyembah patung di
rumahnya (Sulayman) selama 40 hari, maka selama 40 hari juga ia terus
mendapat siksaan hari demi hari. dari Allah pada seorang hamba.
Nabi Sulayman as, misalnya. Setelah Allah melengserkan tahta
kerajaannya, kemudian Dia menghukumnya dengan banyak hal, diantaranya
mengemis dan meminta-minta. Dulu pada masa pemerintahannya dia bekerja
dan bisa makan dari hasil keringkatnya sendiri, namun kemudian
Kaum
(saleh) tidak memiliki obat kecerian bagi mendung kesedihan mereka,
juga tidak meletakkan beban mereka dan tidak pula memiliki permata kasih
di mata mereka serta hiburan bagi musibah mereka, hingga mereka
bertemu Tuhan mereka. Pertemuan kaum saleh dengan Tuhannya meliputi dua
jenis : Pertama, pertemuan di dunia yaitu melalui hati dan nurani kaum saleh, dan ini termasuk jarang terjadi. Kedua, pertemuan
di Akhirat. Kaum saleh baru bisa merasakan kebahagian dan kecerian
setelah bertemu dengan Tuhan mereka, meskipun sebelumnya musibah
(kesediahan) terus-menerus menimpa.
Setelah berbicara tentang nafsu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani melanjutkan):
Wahai
pemuda ! Cegahlah nafsu dari syahwat kesenangan dan kelezatan. Berilah
dia makanan yang suci tanpa najis. Makan yang suci adalah makanan halal.
Adapun makanan yang najis adalah haram. Kemudian tutur Syekh lagi,
berilah dia sarapan yang hala hingga dia tidak menjadi sombong, tinggi
hati dan kurang ajar. Ya Allah kenalkanlah kami dengan-Mu hingga kami
mengenal-Mu Amiin
sumber :
- Syekh Abdul Qadir al-Jailnai, "Rahasia Mencintai Allah", terjemahan dari : "Al-Fath ar-Rabbaani wa al-Faydl ar-Rahmaani", Penerjemah : Kamran As'ad Irsyadi, Sabil, Jogjakarta, 2011.
Mencintai Allah dan Tanda-Tandanya
Cinta adalah unsur terpenting dalam ibadah. Bersama raja` (berharap) dan khauf (takut), cinta menjadi perasaan hati yang melengkapi ketundukan kita kepada Allah.
Salaf berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta saja, maka ia zindiq. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan takut saja, maka ia harury (pengikut sekte khawarij). Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan rasa harap saja, maka ia murji` (pengikut sekte murji`ah).” (Majmu al Fatawa)
Allah berfirman:
Allah berfirman tentang nabi-nabi-Nya (yang artinya):
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al Anbiya [21]: 90)
Tiga unsur ini juga terdapat dalam surat Al Fatihah, surat yang selalu kita baca dalam setiap rakaat shalat kita.
Alhamdulillahi rabbil ‘aalamin mengisyaratkan makna cinta, karena al hamdu artinya memuji Allah dengan sifat-sifat sempur-na disertai rasa cinta. Pujian tanpa disertai rasa cinta tidak disebut al hamdu, akan tetapi al madhu.
Ar rahmaanir rahiim mengisyaratkan makna raja`, karena rahmat Allah yang dikandung dalam dua nama Allah al rahman dan al rahim adalah sesuatu yang kita harapkan dari ibadah-ibadah yang kita kerjakan.
Maaliki yaumid diin mengisyaratkan makna khauf. Hari pembalasan adalah hari yang kita takutkan. Kedahsyatannya membuat setiap mukmin takut untuk menghadap dengan amal ibadah yang sedikit. Untuk itulah kita pun beribadah kepada Allah. Agar kita tidak mengalami kesulitan saat hari pembalasan itu datang hingga akhirnya kita dimasukkan kepada siksa Allah yang sangat berat.
Cinta yang diliputi unsur ketundukan, merendahkan diri dan ketaaan secara mutlak tidak boleh terbagi. Ia adalah cinta khusus untuk Allah. Harus kita murnikan. Tidak boleh kita tujukan cinta itu kepada selain Allah. Jika cinta itu terbagi, berarti kita membagi ketundukan dan ibadah kita kepada Allah. Artinya kita telah berbuat dosa paling besar, yaitu syirik. Perhatikan firman Allah berikut,
Adapun cinta yang tidak mengandung unsur ketundukan dan perendahan diri, tak berdosa jika ia ada dalam hati kita. Cinta keluarga, anak-anak, orang tua, sahabat, bahkan cinta kepada lawan jenis, harta dan dunia adalah tabiat dan fitrah manusia. Semua itu adalah cinta yang halal. Namun dengan catatan, semua cinta itu tidak boleh sampai melampaui cinta kita kepada Allah. Cinta itu tidak boleh sampai membuat kita meninggalkan kewajiban kita. Cinta itu tidak boleh sampai membuat kita bermaksiat kepada-Nya. Jika sampai demikian, maka renungkanlah ancaman Allah berikut,
Tanda-Tanda Cinta Kepada Allah
Pokok cinta ada dalam hati. Namun cinta juga dapat diungkapkan oleh lisan. Cinta pun harus dibuktikan dalam perbuatan. Berikut adalah tanda-tanda orang yang mencintai Allah. Siapa saja yang memilikinya, berarti ia benar-benar mencintai Allah. Jika tidak, maka bisa kita katakan cintanya adalah cinta palsu atau hanya sekedar pengakuan.
1. Senantiasa mendahulukan perkara yang Allah cintai atas selainnya
Orang yang mencintai Allah nampak dari prilaku dan tindakannya yang senantiasa mengedepankan apa pun yang dicintai oleh Allah dari kepentingan siapa pun dan urusan apa pun, dari keinginannya, hawa nafsunya, akal pikirannya, orang yang dicintainya dan lain sebagainya. Cintanya yang agung kepada Allah mewujud menjadi bentuk-bentuk pengorbanan yang menakjubkan. Kerelaan hati orang-orang yang jujur dalam cintanya kepada Allah tidak pernah kering dari amal-amal kebaikan yang bervisi akhirat dan maslahat. Tidak segan meninggalkan segala kepentingan, selain kepentingan yang dicintai oleh Allah azza wa jalla.
2. Mentauladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Ciri orang yang mencintai Allah selanjutnya adalah mentauladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Allah telah memilih seorang utusan untuk diikuti jejak dan titahnya dan Allah ridho kepadanya. Bukti cinta kita kepada Allah harus diwujudkan dengan cara-cara yang sesuai dengan ajaran Rasulullah. Karena Allah hanya ridho jika kita mengikuti Rasulullah dalam beribadah kepadanya. Maka, jika ada seseorang yang mengaku cinta kepada Allah, namun perbuatannya tidak sesuai dengan contoh Rasulullah, pastilah cintanya itu tidak berbalas cinta dari Allah. Amati firman Allah berikut,
3. Mencintai orang-orang yang mencintai Allah
Tidak akan sempurna cinta kita kepada Allah hingga kita juga mencintai orang-orang yang mencintai Allah dikalangan orang-orang yang beriman. Ciri orang yang mencintai Allah adalah membangun persaudaraan yang kokoh diatas cinta kepada Allah, saling menyayangi, mengayomi dan membantu antara orang-orang beriman yang mencintai Allah. Allah berfirman,
4. Keras terhadap orang-orang kafir
Jika kasih sayang dan rasa cinta kepada sesama orang beriman adalah ciri kecintaan kita kepada Allah, maka, begitu pun ciri cinta kepada Allah adalah membenci, keras, tegas dan berlepas diri dari orang-orang kafir. Maka tidak disebut orang benar-benar mencintai Allah, jika kita mencintai dan berloyalitas kepada orang-orang kafir. Karena mereka adalah musuh-musuh Allah. Allah membenci mereka, maka kita pun harus membenci mereka.
5. Berjihad di jalan Allah
Jihad adalah puncak tertinggi dari agama. Mengerahkan kemampuan dalam berperang melawan musuh Islam dengan tujuan meninggikan kalimat Allah ini adalah ciri cinta kepada Allah yang sangat besar. Sehingga Allah menjanjikan bagi orang-orang yang wafat dalam jihad surga yang akan mereka masuki tanpa hisab.
6. Tidak takut celaan dalam berpegang teguh terhadap agama
Selanjutnya, sebagaimana yang Allah nyatakan dalam surat Al Maa`idah diatas, ciri orang yang mencintai Allah adalah tidak takut dengan celaan, cemoohan, cibiran dan hinaan orang-orang yang tidak suka kepadanya karena ia berpegang teguh terhadap agama dan ajaran Allah. Kekuatan cinta telah membuatnya kebal dengan semua itu. Seperti teladannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang juga mendapat kata-kata dan hinaan buruk dari orang-orang musyrik dahulu. Beliau disebut penyihir, orang gila dan pemecah belah. Namun semua hinaan itu tidak membuatnya menyurutkan langkah walaupun sedikit pun dalam berdakwah kepada Allah.
Wallahu a’lam, wa shallallahu wa sallam ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.
(Disarikan dari buku “Al Irsyaad” karya Syaikhunaa Dr. Shaleh bin Fauzan al Fauzan (Anggota Hai`ah Kibar al Ulama, KSA)
Abu Khalid Resa Gunarsa – Subang, 13 September 2013
Salaf berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta saja, maka ia zindiq. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan takut saja, maka ia harury (pengikut sekte khawarij). Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan rasa harap saja, maka ia murji` (pengikut sekte murji`ah).” (Majmu al Fatawa)
Allah berfirman:
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan
kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada
Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya
azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al Isra [17]: 57)Allah berfirman tentang nabi-nabi-Nya (yang artinya):
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al Anbiya [21]: 90)
Tiga unsur ini juga terdapat dalam surat Al Fatihah, surat yang selalu kita baca dalam setiap rakaat shalat kita.
Alhamdulillahi rabbil ‘aalamin mengisyaratkan makna cinta, karena al hamdu artinya memuji Allah dengan sifat-sifat sempur-na disertai rasa cinta. Pujian tanpa disertai rasa cinta tidak disebut al hamdu, akan tetapi al madhu.
Ar rahmaanir rahiim mengisyaratkan makna raja`, karena rahmat Allah yang dikandung dalam dua nama Allah al rahman dan al rahim adalah sesuatu yang kita harapkan dari ibadah-ibadah yang kita kerjakan.
Maaliki yaumid diin mengisyaratkan makna khauf. Hari pembalasan adalah hari yang kita takutkan. Kedahsyatannya membuat setiap mukmin takut untuk menghadap dengan amal ibadah yang sedikit. Untuk itulah kita pun beribadah kepada Allah. Agar kita tidak mengalami kesulitan saat hari pembalasan itu datang hingga akhirnya kita dimasukkan kepada siksa Allah yang sangat berat.
Cinta yang diliputi unsur ketundukan, merendahkan diri dan ketaaan secara mutlak tidak boleh terbagi. Ia adalah cinta khusus untuk Allah. Harus kita murnikan. Tidak boleh kita tujukan cinta itu kepada selain Allah. Jika cinta itu terbagi, berarti kita membagi ketundukan dan ibadah kita kepada Allah. Artinya kita telah berbuat dosa paling besar, yaitu syirik. Perhatikan firman Allah berikut,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ
أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ
حُبًّا لِلَّهِ
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya
kepada Allah.” (QS. Al Baqarah [2]: 165)Adapun cinta yang tidak mengandung unsur ketundukan dan perendahan diri, tak berdosa jika ia ada dalam hati kita. Cinta keluarga, anak-anak, orang tua, sahabat, bahkan cinta kepada lawan jenis, harta dan dunia adalah tabiat dan fitrah manusia. Semua itu adalah cinta yang halal. Namun dengan catatan, semua cinta itu tidak boleh sampai melampaui cinta kita kepada Allah. Cinta itu tidak boleh sampai membuat kita meninggalkan kewajiban kita. Cinta itu tidak boleh sampai membuat kita bermaksiat kepada-Nya. Jika sampai demikian, maka renungkanlah ancaman Allah berikut,
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ
وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ
اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ
تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي
سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا
يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara,
isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan,
perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu
sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari
berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
keputusan NYA.” dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
fasik.” (QS. At Taubah [9]: 26)Tanda-Tanda Cinta Kepada Allah
Pokok cinta ada dalam hati. Namun cinta juga dapat diungkapkan oleh lisan. Cinta pun harus dibuktikan dalam perbuatan. Berikut adalah tanda-tanda orang yang mencintai Allah. Siapa saja yang memilikinya, berarti ia benar-benar mencintai Allah. Jika tidak, maka bisa kita katakan cintanya adalah cinta palsu atau hanya sekedar pengakuan.
1. Senantiasa mendahulukan perkara yang Allah cintai atas selainnya
Orang yang mencintai Allah nampak dari prilaku dan tindakannya yang senantiasa mengedepankan apa pun yang dicintai oleh Allah dari kepentingan siapa pun dan urusan apa pun, dari keinginannya, hawa nafsunya, akal pikirannya, orang yang dicintainya dan lain sebagainya. Cintanya yang agung kepada Allah mewujud menjadi bentuk-bentuk pengorbanan yang menakjubkan. Kerelaan hati orang-orang yang jujur dalam cintanya kepada Allah tidak pernah kering dari amal-amal kebaikan yang bervisi akhirat dan maslahat. Tidak segan meninggalkan segala kepentingan, selain kepentingan yang dicintai oleh Allah azza wa jalla.
2. Mentauladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Ciri orang yang mencintai Allah selanjutnya adalah mentauladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Allah telah memilih seorang utusan untuk diikuti jejak dan titahnya dan Allah ridho kepadanya. Bukti cinta kita kepada Allah harus diwujudkan dengan cara-cara yang sesuai dengan ajaran Rasulullah. Karena Allah hanya ridho jika kita mengikuti Rasulullah dalam beribadah kepadanya. Maka, jika ada seseorang yang mengaku cinta kepada Allah, namun perbuatannya tidak sesuai dengan contoh Rasulullah, pastilah cintanya itu tidak berbalas cinta dari Allah. Amati firman Allah berikut,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ
رَحِيمٌ
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3]: 31)3. Mencintai orang-orang yang mencintai Allah
Tidak akan sempurna cinta kita kepada Allah hingga kita juga mencintai orang-orang yang mencintai Allah dikalangan orang-orang yang beriman. Ciri orang yang mencintai Allah adalah membangun persaudaraan yang kokoh diatas cinta kepada Allah, saling menyayangi, mengayomi dan membantu antara orang-orang beriman yang mencintai Allah. Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ
عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ
وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى
الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ
لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ
عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad
dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah
mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut
terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang
kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan
orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada
siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi
Maha mengetahui.” (QS. Al Maa`idah [5]: 54)4. Keras terhadap orang-orang kafir
Jika kasih sayang dan rasa cinta kepada sesama orang beriman adalah ciri kecintaan kita kepada Allah, maka, begitu pun ciri cinta kepada Allah adalah membenci, keras, tegas dan berlepas diri dari orang-orang kafir. Maka tidak disebut orang benar-benar mencintai Allah, jika kita mencintai dan berloyalitas kepada orang-orang kafir. Karena mereka adalah musuh-musuh Allah. Allah membenci mereka, maka kita pun harus membenci mereka.
أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ
“Bersikap keras terhadap orang-orang kafir.”5. Berjihad di jalan Allah
Jihad adalah puncak tertinggi dari agama. Mengerahkan kemampuan dalam berperang melawan musuh Islam dengan tujuan meninggikan kalimat Allah ini adalah ciri cinta kepada Allah yang sangat besar. Sehingga Allah menjanjikan bagi orang-orang yang wafat dalam jihad surga yang akan mereka masuki tanpa hisab.
يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Yang berjihad di jalan Allah.”6. Tidak takut celaan dalam berpegang teguh terhadap agama
Selanjutnya, sebagaimana yang Allah nyatakan dalam surat Al Maa`idah diatas, ciri orang yang mencintai Allah adalah tidak takut dengan celaan, cemoohan, cibiran dan hinaan orang-orang yang tidak suka kepadanya karena ia berpegang teguh terhadap agama dan ajaran Allah. Kekuatan cinta telah membuatnya kebal dengan semua itu. Seperti teladannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang juga mendapat kata-kata dan hinaan buruk dari orang-orang musyrik dahulu. Beliau disebut penyihir, orang gila dan pemecah belah. Namun semua hinaan itu tidak membuatnya menyurutkan langkah walaupun sedikit pun dalam berdakwah kepada Allah.
وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ
“Dan tidak takut kepada celaan orang yang mencela.”Wallahu a’lam, wa shallallahu wa sallam ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.
(Disarikan dari buku “Al Irsyaad” karya Syaikhunaa Dr. Shaleh bin Fauzan al Fauzan (Anggota Hai`ah Kibar al Ulama, KSA)
Abu Khalid Resa Gunarsa – Subang, 13 September 2013
Langganan:
Postingan (Atom)